Berikut ini adalah contoh kasus pada data time series ARIMA W6 :
327 385 382 217 609 466 621 455 472 469
426 579 509 580 611 609 469 661 525 648
747 757 767 767 745 760 703 909 870 852
886 960 976 857 939 973 886 836 1054 1142
941 1117 992 1037 1157 1207 1326 1445 1444 1509
1005 1254 1518 1245 1376 1289 1211 1373 1533 1648
1565 1018 1327 1085 1302 1163 1569 1386 1881 1460
1262 1408 1406 1951 1991 1315 2107 1980 1969 2030
2332 2256 2059 2244 2193 2176 1668 1736 1796 1944
2061 2315 2344 2228 1855 1887 1968 1710 1804 1906
1705 1749 1742 1990 2182 2137 1914 2025 1527 1786
2064 1994 1429 1728Penyelesaian :1. Identifikasi terhadap Variabel dan Mean Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah data di identifikasi statisioner terhadap varians dan statisioner dalam means. Untuk melakukan identifikasi statisioner terhadap varians dapat dilakukan dengan cara transformasi box cox sebagai berikut :
Berdasarkan hasil output diatas diketahui nilai Rounded Value (lambda) sebesar 0,50 yang menunjukkan bahwa data belum statisioner dalam varians. Selanjutnya akan dilakukantransformasi kembali agar data stasioner terhadap varians :
Dari gambar diatas diketahui nilai Rounded Value (lambda) sebesar 1,00 maka dapat disimpulkan bahwa data W6 telah statisioner terhadap varians.
Langkah berikutnya adalah identifikasi statisioner terhadap means yang dapat di lihat pada gambar time series plot sebagai berikut :
Berdasarkan gambar diatas menunjukkan bahwa plot-plotnya konstan, jadi dapat disimpulkan bahwa data W6 telah statisioner terhadap means.
2.Estimasi Parameter
Untuk menentukan AR pada ARIMA menggunakan PACF, sedangkan jika menentukan MA maka menggunakan ACF. Menentukan model dapat dilihat dari gambar ACF dan PACF sebgai berikut : Pada gambar ACF dan PACF diatas menunjukkan bahwa banyaknya garis yang cut off adalah satu, maka model ARIMA yang mungkin adalah Arima (1, 0, 1) Berdasarkan model Arima (1, 0, 1), langkah yang selanjutnya dilakukanadalah pengujian asumsi sebagai berikut : a) Asumsi White Noise
Hipotesis:
H0 : Data telah white noise
H1 : Data tidak white noise
Tingkat Signifikan: α= 5%
Hasil :
Modified Box-Pierce (Ljung-Box) Chi-Square statistic
Lag 12 24 36 48
Chi-Square 4,7 11,3 22,0 36,3
DF 9 21 33 45
P-Value 0,863 0,957 0,927 0,821
Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa semua nilai p-value > α sehingga gagal tolak H0. Jadi dapat disimpulkan data W6 telah white noise pada model Arima (1,0,1).
Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa semua nilai p-value > α sehingga gagal tolak H0. Jadi dapat disimpulkan data W6 telah white noise pada model Arima (1,0,1).
b) Asumsi Normal
Hipotesis:
H0 : Residual telah berdistribusi normal
H1 : Residual tidak berdistribusi normal
Tingkat Signifikan: α= 5%
Tingkat Signifikan: α= 5%
Berdasarkan pengujian residual diatas menunjukkan bahwa gagal tolak H0. Maka dapat disimpulkan bahwa data telah berdistribusi normal.
c) Signifikansi parameter
Hipotesis:
H0 : Parameter tidak signifikan terhadap model
H1 : Parameter telah signifikan terhadap model
Tingkat Signifikan: α= 5%
Hasil :
Final Estimates of Parameters
Type Coef SE Coef T P
AR 1 0,1471 0,1424 1,03 0,304
MA 1 0,7487 0,0980 7,64 0,000
Constant 0,17781 0,06344 2,80 0,006
Berdasarkan hasil diatas diketahui nilai p-value pada AR1, MA1 dan constant sebesar 0,304 , 0,000, 0,006. Jadi pada model MA1 dan constant menunjukkan nilai p-value < α tolak H0 yang artinya bahwa parameter telah signifikan terhadap model.Sedangkan untuk AR1 diputuskan gagal tolak H0 yang artinya parameter tidak signifikan terhadap model.
d) Tes diagnostik
Hasil :
SS = 776,666 (backforecasts excluded)
MS = 7,061 DF = 110
Pada hasil diatas menunjukkan bahwa dengan DF atau derajat bebas sebesar 110 dengan nilai MSE sebesar 7,061yang artinya dapat dibandingkan dengan model Arima lain.








atau
atau 
= nilai dugaan pada waktu ke-t

